Monday, October 9th, 2006
J o e
asa adalah hujan.
Aku sangat mengenalnya. Rintiknya datang menyejukkan hari. Lain waktu ia deras, mengguyur habis tubuhku, kadang sampai membuatku menggigil karena dinginnya. Tapi aku mencintainya. Mencintai kehadirannya. Mencintai setiap tetesnya yang mampu memutar balik duniaku. Mencintai dinginnya yang mampu membekukan waktu. Bahkan aku mencintai suaranya. Mencandu aromanya.
asa adalah hujan.
Ketika waktu berputar dan kemarau datang, aku merindunya. Dia yang mampu membawa damai pada hari yang tak lagi bisa kupegang. Menghentikan waktu, dan aku tahu semua akan baik-baik saja. Dinginnya menyelimuti tubuhku, membuatku menyadari hangat di hatiku. Betapa aku mencintanya. Dia yang mampu memberikan warna yang indah pada dunia. Membuatku melihat segalanya dengan berbeda, dengan pendar cahaya yang tak pernah kulihat sebelumnya.
asa adalah hujan.
Aku adalah anak kecil yang bersorak pada kehadirannya. Menikmati tetesnya yang jatuh di hidungku. Mengaliri wajah, jatuh ke dada dan menghangat di telapak. Merelakan tubuhku disiram derasnya. Mencinta.
asa adalah hujan.
mencintanya adalah surga. Memilikinya hanyalah impian yang belum mau hilang juga dari kepalaku. Dia yang selalu menghilang di ujung hari. Dia yang tak bisa kugenggam. Memilikinya hanyalah mimpi yang membuatku terjaga di tengah malam, dengan keringat dingin mengalir deras di punggungku. Memilikinya hanyalah sebuah keinginan. Keinginan yang sangat sulit untuk dibendung. Keinginan yang kadang membutakan mataku, sehingga aku akan menggenggamnya lebih erat. Tapi asa adalah hujan. Dia tak bisa digenggam.
***