Archive for January, 2006

Sweet Little Moments

Thursday, January 12th, 2006

Beberapa bulan belakangan, kalau sedang menyetir Bailey, mobil saya, seringkali saya memilih berkesenian dengan mendengarkan radio. Channel yang saya pilih selalu yang itu-itu saja. Alternatifnya 2: MGT 101.1 fm atau Walagri 93.3 fm (yang terakhir ini sempat saya kira sebagai radio ‘walabi’ karena jinglenya yang kurang jelas), dengan alasan yang sama: dua stasiun ini sama-sama seringkali memutarkan lagu-lagu jadul yang menyenangkan. Saya jadi sering mengalami such amazing blasts from the past. Beberapa hari yang lalu, MGT memutarkan sebuah lagu lama yang, kalau saya tidak salah, dinyanyikan oleh Vina Panduwinata dan, kalau saya tidak salah juga, berjudul Logika. It was cheering. Saya bernyanyi mengikuti lagu itu dengan suara sangat keras, bahkan berteriak. It was one of the greatest moments of my life. Haha. So simple, isn’t it? Saya suka hal-hal kecil yang menyenangkan, yang bisa membuat hidup jungkir balik, dari bete dan pundung, lalu tiba-tiba jadi manis dan wonderful. Seperti misalnya ketemu dengan kucing yang mau dielus-elus, atau menonton film yang tepat (atau ‘sekedar’ Friends) atau menemukan buku tulis-buku tulis lama saya yang pastinya banyak gambar dan curhatan. Oh ya, ada lagi: atau makanan yang benar-benar enak. Momen-momen kecil yang membangkitkan semangat. Kapan ya kira-kira saya akan merasakan lagi momen seperti itu? Dan, kira-kira, hal kecil menyenangkan seperti apakah yang akan terjadi? Kupu-kupu yang hinggap di lengan saya? atau bertemu dengan seorang Mustaqim Adamrahí? Atau…

: pernah terjadi, sekali, di Daarut Tauhid… so fun!

í: sudah lama sekali tidak bertemu dia…

50 First Dates; Mimpi dan Rasa Takut

Thursday, January 12th, 2006

Beberapa waktu lalu saya menonton kembali film 50 First Dates. Saya sudah pernah menontonnya sebelumnya, tapi tidak mengerti jalan ceritanya karena subtitlenya yang buruk (biasalah, bajakan…). Tapi, adik saya ternyata mempunyai dvd film ini (yang juga bajakan) dengan subtitle yang lebih baik. Maka, saya menonton kembali film yang dibintangi Adam Sandler (tentu saja sepaket dengan Rob Schneider) dan Drew Barrymore ini.

Saya menangis

bombay

. Pada saat mencapai bagian dimana Adam Sandler menyanyikan lagu ‘Forgetful Lucy’ untuk Drew, saya merasa benar-benar terharu dan senang. It was wonderful to be a witness of such beautiful love. And, it was also nice to imagine having such love happening to me. Jadi, saya duduk di depan layar televisi saya dan menangis

bombay

sambil membayangkan memiliki kisah cinta yang menakjubkan, tentunya dengan seseorang seperti karakter laki-laki di film itu: deeply in love, never lets go, and with a great potential of a live-happily-ever-after ending. Oh, such an AMAZING world this would be.

Dan sejak saat itu, saya pun mulai banyak mengkonsumsi summer movies.

Saya sebelumnya tidak terlalu menyukai summer movies, karena menurut saya jalan ceritanya mudah sekali ditebak dan karakter-karakternya tipikal. Tapi justru karakter tipikal inilah yang beberapa hari terakhir ini saya cari-cari. Dan ternyata, all those happy endings are the medicine of a tired soul and a broken heart.

Ya, semua melankoli ini berawal dari hati saya yang patah.

Tapi, timbul sesuatu yang dilematis dalam diri saya. Memang benar mereka—all those summer movies—bisa membuat saya memimpikan sebuah kisah cinta yang mendebarkan bersama seseorang dengan karakter yang saya sebut diatas, bisa menumbuhkan kembali harapan di hati saya bahwa cinta seperti yang terjadi dalam semua summer movies itu memang benar-benar ada. Tetapi, ada bagian dari diri saya yang memang pernah bersentuhan dengan kenyataan yang terus-menerus mengatakan dan meyakinkan bagian lainnya yang pemimpi dari diri saya, bahwa there’s no such thing as live happily ever after; bahwa that kind of guy just doesn’t exist. Saya jadi resah gelisah gundah gulana.

Sebenarnya masalah saya adalah rasa takut. Saya ingin percaya bahwa ada cinta seperti yang saya idamkan itu, juga bahwa ada seseorang seperti yang saya impikan itu, tapi kemudian saya takut. Saya takut apabila saya tidak mendapatkannya maka itu akan menyakiti saya. Karena, setelah mencoba dan tahu seperti apa sakitnya, saya kapok dan tidak mau sakit lagi. Tapi, kalau saya tidak mau melepaskan rasa takut itu, maka saya tidak akan punya kesempatan sekecil apapun untuk bisa merasakan kisah cinta mendebarkan bersama seorang laki-laki impian saya, ya

kan

.

Pertanyaannya adalah, kapan ya, saya akan siap melepaskan rasa takut itu?

Balas Dendam

Thursday, January 12th, 2006

ah, the sweet of revenge..

saya orangnya memang pendendam, jadi senang sekali kalau bisa balas dendam sama seseorang atau sesuatu yang menyakiti saya. Tapi sebenernya, saya nggak terlalu peduli apakah balas dendam yang saya lakukan itu benar-benar secara nyata menyakiti seseorang atau sesuatu itu atau tidak, saya cuma senang berpikir bahwa mereka memang benar-benar tersakiti oleh aksi balas dendam itu.

Ini pernah terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya pada tahun 1998, waktu itu saya baru kelas 1 sma. Seseorang menyakiti perasaan saya dan membuat saya merasa tidak dihargai. We had been flirting back and forth then. So we had something going on between us. Tapi dia menyakiti perasaan saya dan ternyata saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan aksi balas dendam saya. Dia menyatakan perasaannya dan saya menolaknya. That was the first revenge. Saya tidak puas maka saya pun melancarkan aksi kedua. Aksi ini saya lakukan dengan tujuan membuatnya menyesal telah menyia-nyiakan saya. Saya melakukannya dengan cara membuat diri saya terlihat semakin menarik, dengan membuang baju-baju lama saya yang kurang ‘gaul’ (cih!) dan menggantinya dengan baju-baju yang lebih kecil dan ketat yang memang pada saat itu sedang ngetrend, juga dengan tebar pesona sana-sini; saya termasuk seseorang yang pintar dan smart di lingkungan saya.

Dari kedua aksi itu, tidak satupun yang saya benar-benar tahu telah menyakiti orang itu. Saya tidak tahu apakah dia sakit hati pada saat saya menolak ajakannya untuk berpacaran dan obviously, saya tidak punya cara untuk mengetahui apakah dia sempat menyesal telah menyia-nyiakan saya dulu. Ah, tapi saya senang berpikir bahwa saya telah membalaskan dendam dan rasa sakit saya, sambil berasumsi bahwa dia memang benar-benar tersakiti oleh balas dendam itu.

Saya sudah memaafkan dia sekarang. Forgive, but will never forget. Sekarang, saya bertanya-tanya, seandainya dulu saya tidak melaksanakan aksi balas dendam saya itu, apakah akan semudah ini untuk memaafkannya?

’saya’ dan ‘aku’

Thursday, January 12th, 2006

akhir-akhir ini, saya menulis dengan banyak menggunakan kata ganti ’saya’. sebelumnya ‘aku’. pernah juga ’saya’, tapi itu dulu waktu masih tingkat 1 sampai awal tingkat 2, dan waktu itu alasannya karena kebawa-bawa nyunda. Tapi sekarang alasannya lain lagi; entah kenapa saya merasa kata ganti ’saya’ terkesan tidak terlalu subjektif, lebih obyektif dibandingkan kata ganti ‘aku’.

Menulis, menyenangkan…

about her and her love

Thursday, January 12th, 2006

when she loves, she loves with all of her heart.

she’s looking for a love that stays. a love that never lets her go.

her heart yearns for someone that sees her thru.

she is a bit sentimentil, so she likes him to be a bit romantic.

she wants someone that will hold her forever. someone who’s not afraid of telling her forever.

she likes to be touched, it tells her he’s always there by her side.

when she loves, it’s for the rest of her life.

she has a melancolic heart, so she wants a perfectly solid love.

she wants to be needed, she wants a consuming and irreasonable love.

she is in constant need of affection, of physical interaction.

she wants to see him or hear his voice every now and then.

she craves for someone to hold her hands, to walk thru life with.

she wants togetherness. she wants

true love.

ditulis 13Desember2005

18.52